Penjaga Bahasa Sunda yang Tak Pernah Lelah: Mengenal Ajip Rosidi

  • Conservation and Culture
  • 2026-07-21
  • "Bangsa yang besar bukan hanya mampu menciptakan kebudayaan, tetapi juga mampu merawatnya." Kalimat tersebut terasa tepat untuk menggambarkan sosok Ajip Rosidi, seorang sastrawan, budayawan, dan intelektual yang sepanjang hidupnya mendedikasikan diri untuk menjaga keberlangsungan bahasa dan budaya Sunda.

    Di tengah derasnya arus globalisasi, ketika banyak orang memandang bahasa daerah sebagai sesuatu yang semakin tersisih, Ajip Rosidi justru menunjukkan sikap yang berbeda. Baginya, bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi, melainkan rumah bagi identitas, sejarah, dan cara pandang suatu masyarakat. Karena itulah, menjaga bahasa berarti menjaga jati diri.

    Melalui rubrik Mengenal Tokoh Budaya Sunda, UPT Konservasi, Budaya, dan Bahasa Universitas Galuh mengajak sivitas akademika untuk mengenal tokoh-tokoh yang telah memberikan kontribusi besar bagi pelestarian budaya Sunda. Sosok pertama yang kami angkat adalah Ajip Rosidi—seorang tokoh yang membuktikan bahwa kecintaan terhadap budaya dapat diwujudkan melalui tulisan, pendidikan, dan pengabdian tanpa henti.

    Dari Jatiwangi Menuju Dunia

    Ajip Rosidi lahir pada 31 Januari 1938 di Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat. Sejak usia muda, ia telah menunjukkan minat yang luar biasa terhadap dunia sastra. Bahkan ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, tulisannya telah dimuat di surat kabar. Memasuki usia remaja, karya-karyanya mulai menghiasi berbagai majalah sastra terkemuka di Indonesia.

    Menariknya, perjalanan hidup Ajip Rosidi tidak mengikuti jalur pendidikan formal yang lazim. Ia memilih tidak menyelesaikan pendidikan sekolah menengah atas. Namun, keputusan tersebut tidak menghalanginya untuk menjadi seorang intelektual yang disegani. Melalui kegigihan belajar secara mandiri, membaca tanpa henti, dan terus berkarya, ia justru memperoleh pengakuan sebagai sastrawan, dosen, peneliti, hingga guru besar tamu di beberapa universitas di Jepang. Perjalanan hidupnya menjadi pengingat bahwa semangat belajar tidak selalu dibatasi oleh ijazah, melainkan ditentukan oleh rasa ingin tahu dan ketekunan.

    Menulis sebagai Bentuk Cinta terhadap Budaya

    Bagi Ajip Rosidi, menulis bukan hanya aktivitas kreatif, tetapi juga bentuk tanggung jawab budaya. Ia menghasilkan ratusan karya berupa puisi, cerpen, novel, esai, kritik sastra, buku kebudayaan, hingga penelitian mengenai bahasa dan sastra Sunda. Karya-karyanya ditulis dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Sunda, menunjukkan keyakinannya bahwa kedua bahasa tersebut dapat berkembang berdampingan.

    Namun, yang membuat Ajip Rosidi begitu istimewa bukan semata-mata jumlah karya yang dihasilkannya. Yang lebih penting adalah konsistensinya dalam menjadikan sastra sebagai sarana merawat memori kolektif masyarakat Sunda. Melalui tulisan, ia mendokumentasikan nilai-nilai budaya, tradisi, cerita rakyat, hingga pandangan hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi.

    Ia percaya bahwa ketika sebuah bahasa kehilangan penuturnya, sesungguhnya masyarakat juga kehilangan cara berpikir, cara memandang alam, dan sebagian dari identitas budayanya. Oleh karena itu, sastra memiliki peran penting sebagai ruang untuk menjaga agar bahasa tetap hidup.

    Hadiah Rancage: Menghargai Mereka yang Menulis dalam Bahasa Daerah

    Salah satu warisan terbesar Ajip Rosidi adalah Hadiah Sastra Rancage, yang mulai diberikan pada tahun 1989. Penghargaan ini lahir dari keprihatinannya terhadap minimnya apresiasi bagi para penulis yang tetap berkarya menggunakan bahasa daerah.

    Melalui penghargaan tersebut, Ajip Rosidi ingin menyampaikan pesan sederhana tetapi mendalam: karya sastra dalam bahasa daerah memiliki nilai yang sama pentingnya dengan karya sastra dalam bahasa nasional. Bahasa Sunda, Jawa, Bali, dan bahasa daerah lainnya layak memperoleh ruang untuk berkembang serta dihargai sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.

    Hingga kini, Hadiah Sastra Rancage masih dikenal sebagai salah satu penghargaan paling bergengsi bagi para penulis sastra daerah. Kehadirannya telah mendorong lahirnya banyak karya baru sekaligus memperkuat semangat pelestarian bahasa ibu di berbagai daerah.

    Pelestarian Budaya Bukan Sekadar Nostalgia

    Ajip Rosidi sering mengingatkan bahwa melestarikan budaya bukan berarti menolak perubahan. Budaya justru harus terus hidup, dipelajari, dan dikembangkan agar tetap relevan dengan zamannya.

    Pandangan tersebut tercermin dalam kiprahnya mendokumentasikan pantun Sunda, meneliti folklor, mendorong penelitian terhadap naskah-naskah kuno, hingga ikut menyusun Ensiklopedi Kebudayaan Sunda. Semua itu dilakukan agar generasi mendatang memiliki sumber pengetahuan yang dapat dipelajari dan dikembangkan lebih lanjut.

    Bagi Ajip Rosidi, pelestarian budaya bukanlah romantisme masa lalu. Sebaliknya, budaya merupakan fondasi yang memungkinkan masyarakat menghadapi masa depan tanpa kehilangan identitasnya.

    Relevansi bagi Mahasiswa Masa Kini

    Di era digital, mahasiswa memiliki akses yang sangat luas terhadap berbagai budaya dunia. Hal tersebut tentu merupakan peluang yang patut disyukuri. Namun, keterbukaan global juga menghadirkan tantangan agar generasi muda tidak melupakan akar budayanya sendiri.

    Semangat yang diwariskan Ajip Rosidi tetap relevan hingga hari ini. Mencintai budaya tidak selalu berarti menjadi budayawan atau sastrawan. Mahasiswa dapat memulainya melalui langkah-langkah sederhana, seperti membaca karya sastra Sunda, menggunakan bahasa Sunda dengan santun dalam konteks yang tepat, mendokumentasikan tradisi lokal, meneliti budaya daerah, atau memanfaatkan teknologi digital untuk memperkenalkan kekayaan budaya kepada masyarakat yang lebih luas.

    Sebagai sivitas akademika Universitas Galuh yang mengusung visi sebagai Universitas Konservasi dan Budaya, nilai-nilai tersebut memiliki makna yang sangat dekat. Konservasi tidak hanya berkaitan dengan lingkungan hidup, tetapi juga mencakup pelestarian bahasa, pengetahuan lokal, seni, tradisi, dan identitas budaya yang diwariskan oleh para pendahulu.

    Warisan yang Terus Hidup

    Ajip Rosidi wafat pada 29 Juli 2020, tetapi pemikiran dan dedikasinya tetap hidup melalui karya-karyanya, lembaga-lembaga kebudayaan yang ia dirikan, serta semangat para penulis yang terus berkarya dalam bahasa daerah. Ia telah menunjukkan bahwa menjaga budaya bukanlah pekerjaan sesaat, melainkan komitmen sepanjang hayat.

    Di tengah perubahan zaman, teladan Ajip Rosidi mengajarkan bahwa kemajuan tidak harus dibayar dengan hilangnya identitas. Justru masyarakat yang mengenal dan menghargai budayanya sendiri akan lebih siap berdialog dengan dunia.

    Refleksi Minggu Ini

    "Jika Ajip Rosidi mengabdikan hidupnya untuk menjaga bahasa dan budaya Sunda, apa langkah sederhana yang dapat kita lakukan mulai hari ini agar warisan budaya tersebut tetap hidup di tengah generasi muda?"

    Tahukah Anda?

    • Ajip Rosidi mulai menulis sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.
    • Ia menghasilkan ratusan karya sastra dan kebudayaan sepanjang hidupnya.
    • Pada tahun 1989, ia menggagas Hadiah Sastra Rancage sebagai bentuk penghargaan bagi penulis yang berkarya dalam bahasa daerah.
    • Bersama sejumlah budayawan Sunda, ia turut menyusun Ensiklopedi Kebudayaan Sunda, salah satu rujukan penting mengenai kebudayaan Sunda.

    Galuh Rahayu Lagu