Penjaga Bahasa Sunda yang Tak Pernah Lelah: Mengenal Ajip Rosidi
"Bangsa
yang besar bukan hanya mampu menciptakan kebudayaan, tetapi juga mampu
merawatnya." Kalimat tersebut terasa tepat untuk
menggambarkan sosok Ajip Rosidi, seorang sastrawan, budayawan, dan
intelektual yang sepanjang hidupnya mendedikasikan diri untuk menjaga
keberlangsungan bahasa dan budaya Sunda.
Di tengah
derasnya arus globalisasi, ketika banyak orang memandang bahasa daerah sebagai
sesuatu yang semakin tersisih, Ajip Rosidi justru menunjukkan sikap yang
berbeda. Baginya, bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi, melainkan rumah
bagi identitas, sejarah, dan cara pandang suatu masyarakat. Karena itulah,
menjaga bahasa berarti menjaga jati diri.
Melalui rubrik
Mengenal Tokoh Budaya Sunda, UPT Konservasi, Budaya, dan Bahasa
Universitas Galuh mengajak sivitas akademika untuk mengenal tokoh-tokoh yang
telah memberikan kontribusi besar bagi pelestarian budaya Sunda. Sosok pertama
yang kami angkat adalah Ajip Rosidi—seorang tokoh yang membuktikan bahwa
kecintaan terhadap budaya dapat diwujudkan melalui tulisan, pendidikan, dan
pengabdian tanpa henti.
Dari Jatiwangi Menuju Dunia
Ajip Rosidi
lahir pada 31 Januari 1938 di Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat. Sejak
usia muda, ia telah menunjukkan minat yang luar biasa terhadap dunia sastra.
Bahkan ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, tulisannya telah dimuat di
surat kabar. Memasuki usia remaja, karya-karyanya mulai menghiasi berbagai
majalah sastra terkemuka di Indonesia.
Menariknya,
perjalanan hidup Ajip Rosidi tidak mengikuti jalur pendidikan formal yang
lazim. Ia memilih tidak menyelesaikan pendidikan sekolah menengah atas. Namun,
keputusan tersebut tidak menghalanginya untuk menjadi seorang intelektual yang
disegani. Melalui kegigihan belajar secara mandiri, membaca tanpa henti, dan
terus berkarya, ia justru memperoleh pengakuan sebagai sastrawan, dosen,
peneliti, hingga guru besar tamu di beberapa universitas di Jepang. Perjalanan
hidupnya menjadi pengingat bahwa semangat belajar tidak selalu dibatasi oleh
ijazah, melainkan ditentukan oleh rasa ingin tahu dan ketekunan.
Menulis sebagai Bentuk Cinta terhadap Budaya
Bagi Ajip
Rosidi, menulis bukan hanya aktivitas kreatif, tetapi juga bentuk tanggung
jawab budaya. Ia menghasilkan ratusan karya berupa puisi, cerpen, novel, esai,
kritik sastra, buku kebudayaan, hingga penelitian mengenai bahasa dan sastra
Sunda. Karya-karyanya ditulis dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Sunda,
menunjukkan keyakinannya bahwa kedua bahasa tersebut dapat berkembang
berdampingan.
Namun, yang
membuat Ajip Rosidi begitu istimewa bukan semata-mata jumlah karya yang
dihasilkannya. Yang lebih penting adalah konsistensinya dalam menjadikan sastra
sebagai sarana merawat memori kolektif masyarakat Sunda. Melalui tulisan, ia
mendokumentasikan nilai-nilai budaya, tradisi, cerita rakyat, hingga pandangan
hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Ia percaya
bahwa ketika sebuah bahasa kehilangan penuturnya, sesungguhnya masyarakat juga
kehilangan cara berpikir, cara memandang alam, dan sebagian dari identitas
budayanya. Oleh karena itu, sastra memiliki peran penting sebagai ruang untuk
menjaga agar bahasa tetap hidup.
Hadiah Rancage: Menghargai Mereka yang Menulis
dalam Bahasa Daerah
Salah satu
warisan terbesar Ajip Rosidi adalah Hadiah Sastra Rancage, yang mulai
diberikan pada tahun 1989. Penghargaan ini lahir dari keprihatinannya terhadap
minimnya apresiasi bagi para penulis yang tetap berkarya menggunakan bahasa
daerah.
Melalui
penghargaan tersebut, Ajip Rosidi ingin menyampaikan pesan sederhana tetapi
mendalam: karya sastra dalam bahasa daerah memiliki nilai yang sama pentingnya
dengan karya sastra dalam bahasa nasional. Bahasa Sunda, Jawa, Bali, dan bahasa
daerah lainnya layak memperoleh ruang untuk berkembang serta dihargai sebagai
bagian dari kekayaan budaya Indonesia.
Hingga kini,
Hadiah Sastra Rancage masih dikenal sebagai salah satu penghargaan paling
bergengsi bagi para penulis sastra daerah. Kehadirannya telah mendorong
lahirnya banyak karya baru sekaligus memperkuat semangat pelestarian bahasa ibu
di berbagai daerah.
Pelestarian Budaya Bukan Sekadar Nostalgia
Ajip Rosidi
sering mengingatkan bahwa melestarikan budaya bukan berarti menolak perubahan.
Budaya justru harus terus hidup, dipelajari, dan dikembangkan agar tetap
relevan dengan zamannya.
Pandangan
tersebut tercermin dalam kiprahnya mendokumentasikan pantun Sunda, meneliti
folklor, mendorong penelitian terhadap naskah-naskah kuno, hingga ikut menyusun
Ensiklopedi Kebudayaan Sunda. Semua itu dilakukan agar generasi
mendatang memiliki sumber pengetahuan yang dapat dipelajari dan dikembangkan
lebih lanjut.
Bagi Ajip
Rosidi, pelestarian budaya bukanlah romantisme masa lalu. Sebaliknya, budaya
merupakan fondasi yang memungkinkan masyarakat menghadapi masa depan tanpa
kehilangan identitasnya.
Relevansi bagi Mahasiswa Masa Kini
Di era
digital, mahasiswa memiliki akses yang sangat luas terhadap berbagai budaya
dunia. Hal tersebut tentu merupakan peluang yang patut disyukuri. Namun,
keterbukaan global juga menghadirkan tantangan agar generasi muda tidak
melupakan akar budayanya sendiri.
Semangat yang
diwariskan Ajip Rosidi tetap relevan hingga hari ini. Mencintai budaya tidak
selalu berarti menjadi budayawan atau sastrawan. Mahasiswa dapat memulainya
melalui langkah-langkah sederhana, seperti membaca karya sastra Sunda,
menggunakan bahasa Sunda dengan santun dalam konteks yang tepat,
mendokumentasikan tradisi lokal, meneliti budaya daerah, atau memanfaatkan teknologi
digital untuk memperkenalkan kekayaan budaya kepada masyarakat yang lebih luas.
Sebagai
sivitas akademika Universitas Galuh yang mengusung visi sebagai Universitas
Konservasi dan Budaya, nilai-nilai tersebut memiliki makna yang sangat
dekat. Konservasi tidak hanya berkaitan dengan lingkungan hidup, tetapi juga
mencakup pelestarian bahasa, pengetahuan lokal, seni, tradisi, dan identitas
budaya yang diwariskan oleh para pendahulu.
Warisan yang Terus Hidup
Ajip Rosidi
wafat pada 29 Juli 2020, tetapi pemikiran dan dedikasinya tetap hidup
melalui karya-karyanya, lembaga-lembaga kebudayaan yang ia dirikan, serta
semangat para penulis yang terus berkarya dalam bahasa daerah. Ia telah
menunjukkan bahwa menjaga budaya bukanlah pekerjaan sesaat, melainkan komitmen
sepanjang hayat.
Di tengah perubahan zaman, teladan Ajip Rosidi mengajarkan bahwa kemajuan tidak harus dibayar dengan hilangnya identitas. Justru masyarakat yang mengenal dan menghargai budayanya sendiri akan lebih siap berdialog dengan dunia.
Refleksi Minggu Ini
"Jika Ajip Rosidi mengabdikan hidupnya untuk menjaga bahasa dan budaya Sunda, apa langkah sederhana yang dapat kita lakukan mulai hari ini agar warisan budaya tersebut tetap hidup di tengah generasi muda?"
Tahukah Anda?
- Ajip Rosidi mulai menulis sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.
- Ia menghasilkan ratusan karya sastra dan kebudayaan sepanjang hidupnya.
- Pada tahun 1989, ia menggagas Hadiah Sastra Rancage sebagai bentuk penghargaan bagi penulis yang berkarya dalam bahasa daerah.
- Bersama sejumlah budayawan Sunda, ia turut menyusun Ensiklopedi Kebudayaan Sunda, salah satu rujukan penting mengenai kebudayaan Sunda.